Selasa, 22 Oktober 2013

KARYA TULIS SEJARAH BANDUNG


AA.jpg
DD.jpg














PENGESAHAN

Karya tulis yang berjudul “BANDUNG LAUTAN SEJARAH” ini, disusun dan disahkan umtuk memenuhi salah satu syarat menempuh Ujian Nasional di SMP N 3 MANDIRAJA Tahun Ajaran 2013/2014 pada :

Hari                       :
Tanggal                 :
Tempat                  :

Wali Kelas                                                                         Pembimbing

Tinowati R. S.Pd.                                                            Jumaedi P. S.Pd.
NIP. 19700613 200801 2017                                           NIP. 19691204 199903 1005


Mengetahui
Kepala Sekolah

Dra. Nani Kristiati
NIP. 19670102 199703200
PERSEMBAHAN

Laporan Karya Tulis ini kami persembahkan kepada :
1.      Kepala Sekolah yang telah mendukung kegiatan  ini sehingga dapat berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan suatu apapun.
2.      Ayah dan Ibu yang telah memberikan dukungan baik berupa moril maupun materil sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ini.
3.      Bapak dan Ibu Guru Pembimbing yang telah memberikan petunjuk dan bimbingannya dalam pembuatan karya tulis ini.
4.      Rekan – rekan yang telah memberikan dorongan dan motivasi kepada kami.
5.      Teman – teman yang ikut turut serta mendukung dalam pembuatan Karya Tulis ini.
6.      Pembaca yang budiman.












Motto

1.      Kerugian terbesar bukanlah saat mengalami kebangkrutan, melainkan saat Kita gagal belajar dari kebangkrutan tersebut.
2.      Saya hanyalah seorang manusia, tetapi saya adalah seseorang. Saya tidak dapat melakukan segalanya, tetapi saya dapat melakukan sesuatu. Saya tidak akan menolak melakukan sesuatu yang dapat saya lakukan. (Helen Keller).
3.      Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
4.      Kita cenderung menilai kesuksesan dari jumlah penghasilan kita atau ukuran mobil-mobil kita, bukan dari kualitas layanan dan hubungan kita dengan sesama manusia. (Martin Luther King Jr).
5.      Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.
6.      Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
7.      Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.
8.      Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.
9.      Hidup adalah kesempatan untuk menyumbangkan cinta dengan cara kita sendiri. (Bernie Siegel, M.D.).

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga Karya Tulis dengan judul “BANDUNG LAUTAN SEJARAH” ini dapat terselesaikan  dengan baik. Tak lupa salam serta sholawat tetap tercurahkan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW.
Tujuan dibuatnya karya tulis ini adalah sebagai salah salah satu syarat menempuh Ujian Nasional di SMP N 3 MANDIRAJA, juga sebagai bahan pelatihan dan pengetahuan kami dalam membuat laporan karya tulis sehingga dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi kami dan orang lain.
Karya Tulis ini terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Kepala Sekolah yang telah mendukung kegiatan ini sehingga dapat berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan suatu apapun.
2.      Ayah dan Ibu yang telah memberikan dukungan baik berupa moril maupun materil sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ini.
3.      Bapak dan Ibu Guru Pembimbing yang telah memberikan petunjuk dan bimbingannya dalam pembuatan karya tulis ini.
4.      Rekan – rekan yang telah memberikan dorongan dan motivasi kepada kami.

Dalam penyusunan Karya Tulis ini kami menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan dari Karya Tulis ini. Semoga Karya Tulis ini bermanfaat bagi diri saya sendiri dan umumnya pembaca yang budiman.
Wassalamu’alaikum Wr,Wb.
                                                                                                Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................................... i
PENGESAHAN.................................................................................................................. ii
PERSEMBAHAN.............................................................................................................. iii
MOTTO.............................................................................................................................. iv
KATA PENGANTAR........................................................................................................ v
DAFTAR  ISI..................................................................................................................... vi
BAB 1
PENDAHULUAN.............................................................................................................. 1
A.    LATAR BELAKANG...................................................................................... 1
B.     TUJUAN PENULISAN................................................................................... 1
C.     METODE PENGUMPULAN DATA.............................................................. 2
1.      Metode Observasi........................................................................................ 2
2.      Metode Study Pustaka................................................................................ 2
D.    RUANG LINGKUP......................................................................................... 2
E.     SISTEMATIKA PENULISAN........................................................................ 3
BAB II
MUSEUM KONFERNSI ASIA AFRIKA (KAA)........................................................... 5
A.    SEJARAH TERBENTUKNYA KAA............................................................. 7
B.     LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA KAA........................................ 10
C.     ALASAN KOTA BANDUNG DIPILIH SEBAGAI TEMPAT KAA........ 11
D.    PENGARUH KAA BAGI DUNIA INTERNATIONAL............................. 11
E.     BUKTI KEBERHASILAN KAA.................................................................. 12
F.      TUJUAN DIBENTUKNYA MUSEUM KAA.............................................. 12
BAB III
MUSEUM GEOLOGI...................................................................................................... 13
A.    SEJARAH TERBENTUKNYA MUSEUM GEOLOGI............................... 13
B.     TUJUAN DIBENTUKNYA MUSEUM GEOLOGI.................................... 15
C.     KOLEKSI FOSIL DAN BENDA BERSEJARAH....................................... 15
D.    PERKEMBANGAN MUSEUM GEOLOGI................................................. 17
E.     RUANG-RUANG YANG ADA DI MUSEUM GEOLOGI........................ 18
1.      Lantai Satu................................................................................................. 18
2.      Lantai 2...................................................................................................... 20
BAB IV
GUNUNG TANGKUBAN PARAHU............................................................................ 23
A.    PENGERTIAN UMUM................................................................................. 23
B.     LEGENDA RAKYAT SETEMPAT.............................................................. 23
C.     ASAL – USUL GUNUNG TANGKUBAN PERAHU................................ 24
D.    LETAK GEOGRAFIS.................................................................................... 26
E.     IKLIM............................................................................................................. 26
F.      LUAS AREAL................................................................................................ 26
G.    KAWAH GUNUNG TANGKUBAN PERAHU.......................................... 26
1.      Kelompok Pangguyangan Badak ( kawah Utama )................................... 26
2.      Kelompok Kawah Parasiter....................................................................... 27
3.      Aktifitas Letusan....................................................................................... 27
H.    ARTI DAN FUNGSI TANGKUBAN PERAHU......................................... 28
                                    1.      Fungsi Biologis.......................................................................................... 28
                                    2.      Fungsi Ekonomis....................................................................................... 28
                                    3.      Fungsi Psikologis....................................................................................... 29
                                    4.      Fungsi Akademis....................................................................................... 29
I.       LEGENDA SANGKURIANG...................................................................... 29
                                    1.      Dayang Sumbi Dibuang Ke Hutan............................................................ 30
                                    2.      Menikah Dengan Si Tumang..................................................................... 30
                                    3.      Sangkuriang Membunuh Ayahnya............................................................ 31
                                    4.      Sangkuriang diusir Ibunya......................................................................... 32
                                    5.      Sangkuriang Membuat Perahu................................................................... 33

BAB V
PENUTUP......................................................................................................................... 35
A.    KESIMPULAN............................................................................................... 35
B.     SARAN........................................................................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 37


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Study Tour adalah merupakan kegiatan yang erat kaitannya dengan pelajaran, oleh karena itu Study Tour mempunyai arti penting bagi siswa dalam membentuk sikap dan cakrawala pandang.
Dengan adanya Study Tour siswa diharapkan lebih mencintai lingkungan alam. Selain untuk mengetahui dan menikmati keindahan – keindahan lingkungan alam, siswa juga harus mengetahui nama tempat yang di lihat dan kegunaan tempat  tersebut. Dengan diadakannya Study Tour ini nantinya sebagai motivasi agar siswa mempunyai keinginan untuk memikirkan lingkungan sekitarnya.
Atas data yang diperoleh, saya memberi judul “BANDUNG LAUTAN SEJARAH” yang berdasarkan pengalaman saya selama mengikuti Study Tour. Tujuannya adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui keadaan obyek-obyek di Bandung.
2.      Untuk menerangkan antara teori dan praktek.
3.      Kami ingin memperoleh data-data yang cukup jelas tentang keadaan obyek wisata di Bandung.
Oleh karena itu penulis akan memberitahukan sekilas obyek wisata di Bandung di buku laporan Karya Tulis ini. Melalui karya wisata ini saya dapat menyampaikan apa yang saya lihat dalam Study Tour ke Bandung.

B.     TUJUAN PENULISAN
Dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah khususnya kejujuran diadakan penyusunan kegiatan karya tulis yang diutamakan bagi siswa-siswi kalas IX yang akan menempuh Ujian Nasional dengan tujuan :
1.      Untuk memenuhi persyaratan dalam menempuh Ujian Nasional Tahun Ajaran 2013/2014.
2.      Menambah wawasan pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
3.      Melatih penulis dalam menyusun karya tulis.
4.      Penulis ingin mendiskripsikan obyek-obyek yang pernah penulis kunjungi.
5.      Menambah wawasan tentang dunia wisata dan ilmu pengetahuan terutama dalam objek wisata di Bandung ini.
6.      Sebagai bentuk ikut melestarikan peninggalan bersejarah Bangsa Indonesia.
7.      Sebagai dasar pengetahuan penulisan Karya Ilmiah.

C.    METODE PENGUMPULAN DATA
Metode adalah suatu cara penulis untuk mengamati wisata, kemudian mencatat hal yang perlu. Untuk menyelesaikan laporan ini penulis berusaha untuk memperoleh data-data sebagai bahan-bahan dalam penyusunan Karya Tulis. Adapun cara yang digunakan untuk memperoleh data dan menyusun karya tulis ini sebagai berikut:
1.      Metode Observasi (Metode Pengamatan Secara Langsung)
Penulis mengamati obyek-obyek wisata secara langsung dengan mengunjunginya, kemudian mencatat hal-hal yang penulis anggap penting.
2.      Metode Study Pustaka
Metode penelitian dimana penulis mencari buku sumber yang berhubungan dengan objek yang ditulis. Mencari sumber – sumber dalam media Internet dan sebagainya.

D.    RUANG LINGKUP
Penulis membatasi pembahasan dalam karya tulis ilmiah ini sebagai berikut:
1.       Museum Konfernsi Asia Afrika (KAA)
2.      Museum Geologi
3.       Gunung Tangkuban Perahu


E.     SISTEMATIKA PENULISAN
Didalam penyajian karya tulis ini penulis berusaha untuk memecahkan masalah yang penulis kemukakan dengan sejelas jelasnya, untuk itu penulis membagi karya tulis ini menjadi beberapa sistamatika antara lain:
1.      Bab I Pendahuluan
Menerangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan karya tulis ini diantaranya menganai Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode Pengumpulan Data yang terdiri dari Metode Observasi (Metode Pengamatan Secara Langsung) dan Metode Study Pustaka, kemudian dilanjutkan dengan Ruang Lingkup dan Sistematika Penulisan.
2.      Bab II Museum KonferensiAsia Afrika (KAA)
Didalam bab ini mencakup Sejarah Terbentuknya KAA, Latar Belakang Terbentuknya Kaa, Alasan Kota KAA, Pengaruh Kaa Bagi Dunia International, Bukti Keberhasilan KAA, dan Tujuan Dibentuknya Museum Konferensi Asia Afrika.
3.      Bab III Museum Geologi
Didalam bab ini mencakup Sejarah Terbentuknya Museum Geologi, Tujuan Dibentuknya Museum Geologi, Koleksi Fosil Dan Benda Bersejarah, Perkembangan Museum Geologi, dan Ruang-Ruang Yang Ada di Museum Geologi.
4.      Bab IV Gunung Tangkuban Perahu
Didalam bab ini mencakup Pengertian Umum Gunung Tangkuban Perahu, Legenda Rakyat Setempat, Asal – Usul Gunung Tangkuban Perahu, Letak Geografis, Iklim, Luas Areal, dan Kawah Gunung Tangkuban Perahu yang terdiri atas beberapa point yaitu Kelompok Pangguyangan Badak (kawah Utama), Kelompok Kawah Parasiter, dan Aktifitas Letusan            . Kemudian untuk Arti dan Fungsi Tangkuban Perahu meliputi Fungsi Biologis, Fungsi Ekonomis, Fungsi Psikologis, dan Fungsi Akademis dan untuk Legenda Sangkuriang meliputi point Dayang Sumbi Dibuang Ke Hutan, Menikah Dengan Si Tumang, Sangkuriang Membunuh Ayahnya, Sangkuriang diusir Ibunya, dan Sangkuriang Membuat Perahu.          
5.      Bab V Penutup
Bab ini merupakan penutup dalam penyusunan karya tulis yang diantaranya memuat tentang  hal-hal yang telah diuraikan di muka kemudian mengenai saran-saran yang sekiranya dapat menjadi motivasi bagi kami juga bagi para pembaca.






















BAB II
MUSEUM KONFERNSI ASIA AFRIKA (KAA)

Museum Konferensi Asia Afrika merupakan salah satu museum yang berada di Kota Bandung. Terletak di Jl.Asia Afrika No.65. Museum ini merupakan memorabilia Konferensi Asia Afrika. Museum ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Gedung Merdeka. Secara keseluruhan Gedung Merdeka memiliki dua bangunan utama, yang pertama disebut Gedung Merdeka sebagai tempat sidang utama, sedangkan yang berada di samping Gedung Merdeka adalah Museum Konferensi Asia Afrika sebagai tempat memorabilia Konferensi Asia Afrika.
Museum ini merupakan gedung yang menjadi kebanggaan warga Kota Bandung khususnya, dan Indonesia secara umum. Betapa tidak, museum ini menyimpan banyak sekali pertautan sejarah dan berperan besar bagi eksistensi Indonesia di mata internasional karena pernah dipakai untuk menyelenggarakan even sangat penting bertaraf kawasan Benua Asia dan Afrika.
Gedung Museum Konferensi Asia Afrika ini diarsiteki oleh Van Galenlast dan C.O Wolf Shoomaker. Gedung ini mudah sekali terkenal karena pernah diadakan KAA pada tahun 1955 dan Konferensi Mahasiswa Asia Afrika sekitar tahun 1956, dan Konferensi Islam Asia Afrika serta dijadikan sebagai tempat menyimpan banyak naskah-naskah penting. Gedung ini, kini dibuka untuk umum pada setiap hari kerja dan mudah sekali dicapai karena lokasinya yang strategis.
Menarik memang mencermati arsitektur bangunan ini karena perancangnya bukan oleh orang Indonesia, justru oleh dua orang Belanda yang menjadi Guru Besar di Technische Hogeschool (Sekolah Teknik Tinggi), yaitu ITB sekarang. Keduanya dikenal merupakan arsitektur handal dimasanya. Di dalam gedung kental sekali dengan nuansa art deco dengan lantai yang terbuat dari marmer Italia yang mengkilap. Ruangan-ruangannya terbuat dari kayu cikenhout, sedangkan untuk penerangan dipakai lampu kristal bias yang tampak gemerlapan.
Seperti telah diulas sebelumnya bahwa gedung KAA ini memiliki aspek sejarah yang kental. Pada awalnya bangunan ini bernam Sociteit Concordia yang digunakan untuk rekreasi sebagian orang Belanda yang ketika itu berdomisili di Kota Bandung. Mereka merupakan para pegawai Belanda, pembesar, perwira, dan pengusaha. Nah, ketika hari libur datang, gedung ini dipakai untuk melihat berbagai pertunjukan seni, makan malam, dan sebagainya.
Pada masa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 gedung ini digunakan sebagai markas pemuda Indonesia guna menghadapi tentara Jepang yang pada waktu itu enggan menyerahkan kekuasaannya kepada Indonesia. Setelah pemerintahan Indonesia mulai terbentuk (1946 – 1950) yang ditandai oleh adanya pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan, dan Recomba Jawa Barat, Gedung Concordia dipergunakan lagi sebagai gedung pertemuan umum. Disini biasa diselenggarakan pertunjukan kesenian, pesta, restoran, dan pertemuan umum lainnya. Museum Konferensi Asia Afrika berada di Jl. Asia-Afrika No. 65 Kota Bandung, Jawa Barat,40401.

Sejarah berdirinya Konferensi Asia Afrika dibuka sejak diresmikan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 18 April 1995 dan ada beberapa pertimbangan dasar yang mengisi, dasar-dasar pertimbangan itu antara lain :
1.      Memiliki persamaan nasib dan sejarah, yaitu pada umumnya pernah menderita akibat penindasan Imperalisme Barat.
2.      Semakin meningkatnya kesadaran bangsa Asia Afrika yang terjajah untuk memperoleh kemerdekaannya .
3.      Situasi internasional/ pada masa itu diliputi oleh kecemasan adanya perlombaan senjata antara blok barat dan blok timur.
4.      Kecemasan akibat munculnya perang atom.
Persatuan dan solidaritas serta menjadi kerja sama untuk mengatasi masalah-masalah  pembangunan ekonomi, social, pendidikan, dan kebudayaan. Dibawah ini ada beberapa tujuan Konferensi Asia Afrika :
1.      Memajukan kerjasama antara bangsa-bangsa Asia Afrika di lapangan social, ekonomi, dan kebudayaan.
2.      Memberantas rasdiskriminasi dan kolonialisme.
3.      Memperbesar peranan Asia Afrika didunia dan diikut sertalan memperusahakan perdamaian dunia.
Lima Negara PEMRAKARSA  tersebut ialah :
a.       Perdana Menteri Indonesia           : Mr.Alisastro Amidjoyo
b.      Perdana Menteri India                  : Sbri pandit jawa narla inabru
c.       Perdana Menteri Srilangka            : Sirjohin Kotewla
d.      Perdana Menteri Pakistan             : Mohammad Li
e.       Perdana Menteri Bruma :
Ketua konferensi                                 : Mr. Alisastro Amidjiyo,
Sekretaris jendral konferensi               : Fusian Abdul Gani
Ketua Komite Kebudayaan                : Mr. Moh. Yamin
Ketua Komite Ekonomi                      : Prof.Ir.Rosano
Hambatan-hambatan yang dialami selama Konferensi adalah sebagai berikut:
1.      Pandangan politik yang berbeda-beda yaitu ada Negara barat Filiphina, Muangtai, Pakistan, Iran, Turki, dan Jepang. Ada Negara prokomunis yaitu RRC dan Vietnam Utara.
2.      Negara yang tidak blok barat maupun blok timur yaitu Indonesia, India, Srilangka, Bruma, Mesir dan Irak.
3.      Negara-negara yang lain belum menampakkan pandangan politiknya keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam Konferensi Asia Afrika adalah sabagai berikut.
Contoh: Kulaktif mengusahakan perdamaian dunia.

A.    SEJARAH TERBENTUKNYA KONFERENSI ASIA AFRIKA
Konferensi Asia Afrika merupakan gagasan dari Presiden Soekarno. Keterangan Pemerintah Indonesia tentang politik luar negeri yang disampaikan oleh Perdana Menteri Mr.Ali Sastroamidjojo, di depan parlemen pada tanggal 25 Agustus 1953, menyatakan; “Kerja sama dalam golongan negara-negara Asia Arab (Afrika) kami pandang penting benar, karena kami yakin, bahwa kerja sama erat negara-negara tersebut tentulah akan memperkuat usaha ke arah perdamaian dunia yang kekal. Kerjasama antar negara-negara Asia Afrika tersebut adalah sesuai benar dengan aturan-aturan dalam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menyenangi kerjasama kedaerahan (regional arrangements). Lain dari itu negara-negara itu pada umumnya memang mempunyai pendirian-pendirian yang sama dalam beberapa soal di lapangan internasional, jadi mempunyai dasar sama (commonground) untuk mengadakan golongan yang khusus. Dari sebab itu kerja sama tersebut akan kami lanjutkan dan pererat”. Bunyi pernyataan tersebut mencerminkan ide dan kehendak Pemerintah Indonesia untuk mempererat kerja sama di antara negara-negara Asia Afrika.
Pada awal tahun 1954, Perdana Menteri Ceylon (Srilangka) Sir Jhon Kotelawala mengundang para Perdana Menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru), Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dengan maksud mengadakan suatu pertemuan informal di negaranya. Undangan tersebut di terima baik oleh semua pimpinan pemerintah negara yang diundang.
Pertemuan yang kemudian disebut Konferensi Kolombo itu dilaksanakan pada tanggal 28 April sampai dengan 2 Mei 1954. Konferensi ini membicarakan masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama yang menarik perhatian para peserta konferensi, diantaranya pernyataan yang diajukan oleh Perdana Menteri Indonesia : “Where do we stand now, we the peoples of Asia , in this world of ours to day?” (“Dimana sekarang kita berdiri, bangsa Asia sedang berada di tengah-tengah persaingan dunia?”), kemudian pernyataan tersebut dijawab sendiri dengan menyatakan:  “We have noe indeed at the cross-roads of the historyof mankind. It is therefore that we Prime Minister of five Asian countries are meeting here to discuss those crucial problems whice urge Indonesia to propose that another conference be convened wide3r in scope, between the African and Asian Nations. I am convined that the problems are not only convened to the Asian countries represented here but also are of equal importance to the Afrika and other Asian countries”. (“Kita sekarang berada dipersimpangan jalan sejarah umat manusia. Oleh karena itu kita Lima Perdana Menteri negara-negara Asia bertemu disini untuk membicarakan masalah-masalah yang krusial yang sedang dihadapi oleh masyarakat yang kita wakili. Ada beberapa hal yang mendorong Indonesia mengajukan usulan untuk mengadakan pertemuan lain yang lebih luas antara negara-negara Afrika dan Asia. Saya percaya bahwa masalah-masalah itu tidak terjadi hanya di negara-negara Asia yang terwakili disini, tetapi juga sama pentingnya bagi negara-negara Afrika dan Asia lainnya”). Pernyataan tersebut memberi arah kepada lahirnya Konferensi Asia Afrika. Selanjutnya, soal perlunya Konferensi Asia Afrika diadakan, diajukan pula oleh Indonesia dalam sidang berikutnya. Usul itu akhirnya diterima oleh semua konferensi, walaupun masih dalam suasana keraguan.
Perdana Menteri Indonesia pergi ke Kolombo untuk memenuhi undangan Perdana Menteri Srilangka dengan membawa bahan-bahan hasil perumusan Pemerintah Indonesia . Bahan-bahan tersebut merupakan hasil rapat dinas Kepala-kepala Perwakilan Indonesia di negara-negara Asia dan Afrika yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Mr. Sunario. Rapat dinas tersebut diadakan di Tugu ( Bogor ) pada tanggal 9 sampai dengan 22 Maret 1954.
Akhirnya, dalam pernyataan bersama pada akhir Konferensi Kolombo, dinyatakan bahwa para Perdana Menteri peserta konferensi mkembicarakan kehendak untuk mengadakan konferensi negara-negara Asia Afrika dan menyetujui usul agar Perdana Menteri Indonesia dapat menjejaki sampai dimana kemungkinannya mengadakan konferensi semacam itu.

B.     LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA KONFERENSI ASIA AFRIKA
Berakhirnya Perang Dunia II pada bulan Agustus 1945, tidak berarti berakhir pula situasi permusuhan di antara bangsa-bangsa di dunia dan tercipta perdamaian dan keamanan. Ternyata di beberapa pelosok dunia, terutama di belahan bumi Asia Afrika, masih ada masalah dan muncul masalah baru yang mengakibatkan permusuhan yang terus berlangsung, bahkan pada tingkat perang terbuka, seperti di Jazirah Korea, Indo Cina, Palestina, Afrika Selatan, dan Afrika Utara.
Masalah-masalah tersebut sebagian disebabkan oleh lahirnya dua blok kekuatan yang bertentangan secara ideologi maupun kepentingan, yaitu Blok Barat dan Blok Timur. Blok Barat dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur dipimpin oleh Uni Soviet. Tiap-tiap blok berusaha menarik negara-negara di Asia dan Afrika agar menjadi pendukung mereka. Hal ini mengakibatkan tetap hidupnya dan bahkan tumbuhnya suasana permusuhan yang terselubung di antara kedua blok itu dan pendukungnya. Suasana permusuhan tersebut dikenal dengan sebutan "Perang Dingin".
Timbulnya pergejolakan dunia disebabkan pula oleh masih adanya penjajahan di bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika. Memang sebelum tahun 1945, pada umumnya benua Asia dan Afrika merupakan daerah jajahan bangsa Barat dalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak daerah di Asia Afrika menjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika. Beberapa negara Asia Afrika yeng telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian Barat, India dan Pakistan tentang Kashmir, negara-negara Arab tentang Palestina.Sebagian bangsa Arab-Palestina terpaksa mengungsi, karena tanah air mereka diduduki secara paksa oleh pasukan Israel yang dibantu oleh Amerika Serikat.
Sementara itu bangsa-bangsa di dunia, terutama bangsa-bangsa Asia Afrika, sedang dilanda kekhawatiran akibat makin dikembangkannya pembuatan senjata nuklir yang bisa memusnahkan umat manusia. Situasi dalam negeri dibeberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih terjadi konflik antar kelompok masyarakat sebagai akibat masa penjajahan (politik devide et impera) dan perang dingin antar blok dunia tersebut.
Walaupun pada masa itu telah ada badan internasional yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfungsi menangani masalah¬masalah dunia, namun nyatanya badan ini belum berhasil menyelesaikan persoalan tersebut. Sedangkan kenyataannya, akibat yang ditimbulkan oleh masalah-masalah ini, sebagaian besar diderita oleh bangsa-bangsa di Asia Afrika.Keadaan itulah yang melatarbelakangi lahirnya gagasan untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika.

C.     ALASAN DIPILIHNNYA KOTA BANDUNG SEBAGAI TEMPAT DISELENGGARAKANNYA KAA
1.      Karena pada saat itu Bandung fasilitasnya sangat lengkap.
2.      Karena pada saat itu bandung memiliki gedung yang termegah dan terluas se-Asia Tenggara yaitu Gedung Merdeka.
3.      Karena Bandung dijamin aman.
4.      Karena Presiden Soekarno cinta Bandung, beliau pernah menuntut ilmu di universitas ITB Bandung.

D.    PENGARUH KAA BAGI DUNIA INTERNATIONAL
1.      Lahirnya Negara-negara baru yang merdeka
2.      Peranan PBB semakin membaik
3.      Lahirnya kerjasama di berbagai bidang
4.      Melahirkan gerakkan Non Blok

E.     BUKTI KEBERHASILAN KAA DIMATA DUNIA INTERNATIONAL
Mampu membebaskan Negara-negara yang terjajah
F.     TUJUAN DIBENTUKNYA MUSEUM KONFERENSI ASIA AFRIKA
1.      Untuk mengabadikan dan melestarikan nilai-nilai luhur dari KAA
2.      Sebagai pusat study dan penelitian, dan
3.      Sarana pariwisata yang edukatif
Jadwal Buka Museum Konferensi Asia Afrika :
Senin – Juma’at (Monday – Friday)         : 08.00 - 15.00
Istirahat (Lunch Break)                             : 12.00 - 13.00




















BAB  III
MUSEUM GEOLOGI

Sejarah Museum Geologi sangat erat kaitannya dengan sejarah penyelidikan Geologi Indonesia yang mulai sekitar tahun 1855 M lembaga mengukur di naskah penyelidikan geologi pada waktu itu berkedudukan di Bogor (1852-1866), kemudian pindah ke Jakarta (1866-1924) dan pada 1924 pindah ke Bandung yaitu Gedung Gouvec semakin meningkat. Contoh: Batuan Mineral dan Fosil yang dikumpulkan dari berbagai wilayah di Indonesia untuk diselidiki di laboratorium semakin banyak.
Berbagai contoh tersebut memerlukan tempat khusus untuk mendokumentasiakannya, kemudian timbul suatu gagasan untuk memperlihatkan koleksi gedung yang diperlukan bagi laboratorium dan Museum Geologi Bandung. Geologi ini dirancang dengan gaya derstek  ”Art deco” oleh arsitek belanda yaitu Menal  Davar  Schowanbrag  pada tanggal    16 Maret 1929 bertepatan dengan kongres  IP PASIV  yang ke IV. Museum Geologi resmi dengan nama Geologi Saha Museum peranggan pada waktu itu sangat lah sederhana dimana berbagai koleksi Museum Geologi yang disimpan didalam lamari kaca.
Tiap koleksi tempat ditemukan dan kolektornya sisten meskipun peranan Museum Geologi tahun 1998 relatif sama, seprti itu pada waktu Museum Geologi untuk pertama kali  diresmikan tetapi pengunjung  Museum Geologi banyak sekali pemandangannya juga menarik sekali, karena sudah banyak siswa-siswi yang mengunjungi kesana.

A.    SEJARAH TERBENTUKNYA MUSEUM GEOLOGI
Museum Geologi didirikan pada tanggal 16 Mei 1928. Museum ini telah direnovasi dengan dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Setelah mengalami renovasi, Museum Geologi dibuka kembali dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pada tanggal 23 Agustus 2000. Sebagai salah satu monumen bersejarah, museum berada di bawah perlindungan pemerintah dan merupakan peninggalan nasional. Dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, dan mineral. Semua itu dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850.
Masa Penjajahan Belanda keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli Eropa. Setelah Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, Eropa sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Melalui hal ini, diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang, maka pada tahun 1850, dibentuklah Dienst Van Het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi serta sumber daya mineral.
Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil, laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan, sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum.
Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 Gulden. Pembangunannya dimulai pada pertengahan tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929.
Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.


B.     TUJUAN DIBENTUKNYA MUSEUM GEOLOGI
1.      Sebagai tempat wisata yang menyenangkan dan edukatif.
2.      Sebagai pusat study penelitian.
3.      Sebagai tempat yang dapat memberikan ilmu pengetahuan mengenai geografi dan geologi.

C.    KOLEKSI FOSIL DAN BENDA BERSEJARAH DI MUSEUM GEOLOGI
Di Museum Geologi ini terdapat berbagai hasil-hasil peninggalan zaman sejarah (masa lampau) diantaranya fosil dan benda-benda hasil peninggalan zaman dulu, seperti :
1.      Fosil
Di Museum Geologi terdapat fosil manusia purba serta fosil makhluk hidup lainnya. Fosil manusia purba yang ada disini yaitu :
a.      Megantropus Palaeojavanicus
Perawakan Megantropus Paleojavanicus diperkirakan tegap, diperkirakan masif dengan tulang pipi tebal tonjokannya, belakang kepala yang tajam serta tempat pelekatan yang besar bagi otot-otot tengkuh yang kuat. Dengan gerakan yang besar, maka permukaan tengah banyak kerutan-kerutan dengan gigi yang sangat kuat.
b.      Phytecanthropus Erectus
Fosil ini banyak ditemukan di Indonesia. Tinggi badan diperkirakan antara 165 – 180 cm dengan tubuh dan anggota badan yang tegap, mukanya memiliki tonjolan kuning yang kua, hidung yang lebar dengan belakang kepala menyudut, isi tengkorak berkisar antara 750 – 100 cm.
c.       Homosapiens
Jenis Homosapiens memiliki ciri yang lebih maju dengan Phytecanthropus Erectus. Berjalan dan berdiri tegak serta lebih sempurna, tinggi badannya antara 130 – 210 cm, mukanya datar dan lebar, akar hidung lebar dan bagian mulutnya agak sedikit menonjol, dahi membulat serta tinggi, sementara bagian belakang tengkorak juga membulat dengan rahang dan gigi mengecil dan lidah terlalu menonjol ke bagian depan. Volume tengkorak rata-rata antara 1350 – 1450 cm
2.      Alat atau Benda pada Masa Lampau
Pada masa lalu manusia mempunyai berbagai alat yang digunakan sebagai kehidupannya sehari-hari yaitu :
a.       Alat batu, yaitu suatu alat yang terbuat dari bebatuan. Ragam alat batu diantaranya :
a)      Kapak Penimbas (Chopper)
b)      Serut genggam (Sropper)
c)      Penerak (Chopping tool)
d)     Pahat genggam (Hand adec)
e)      Kapak genggam Awai (Proto hand axe)
b.      Alat serpih
Adalah perkakas yang digunakan sebagai pisau, gurdi atau penusuk. Alat ini digunakan sebelum mengenal tulisan yakni digunakan sebagai mengupas, memotong atau juga menggali sejenis umbi-umbian.
c.       Alat tulang
Adalah perkakas yang bahan dasarnya terbuat dari tulang binatang. Tulang-tulang ini dibentuk dari tulang hewan hasil buruan, biasanya sebelum digunakan sebagai alat biasa dibentuk sesuai kebutuhan.




D.    PERKEMBANGAN MUSEUM GEOLOGI
Sistem peragaan Museum Geologi sampai tahun 1990-an tidak mengalami perubahan berarti. Dilain pihak, jumlah pengunjung Museum meningkat terus, sebagian besar terdiri dari Pelajar dan Mahasiswa yang memerlukan informasi untuk menambah pengetahuan mereka ilmu tentang bumi.
Sejak tahun 1993 telah mulai dijajaki upaya pengembangan Museum Geologi dalam rangka memenuhi kebutuhan para pengunjung tersebut melalui proyek kerja sama antar pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang. Tahun 1998 Museum Geologi mulai direnovasi. Dalam proyek ini pemerintah Indonesia menyusun sekenario dan desain peragaan, memperbaiki interior gedung, dan melengkapi fasilitasnya, seperti sanitasi, sistem pemadam kebakaran dan lain sebagainya. Sedangkan pemerintah Jepang menyumbangkan berbagi peralatan untuk sistem dokumentasi, sistem peragaan, reparasi koleksi edukasi peralatan dan riset. Saat ini Museum Geologi memiliki tidak kurang dari 250.000 koleksi batuan dan mineral, sekitar 60.000 koleksi fosil dan lain-lain. Koleksi tersebut disimpan didalam ruang dokumentasi koleksi dan diperagakan diruang peragaan. Museum Geologi juga mempunyai fasilitas edukasi lainya atau ruang auditorium untuk pemutaran film bagi pengunjung yang datang secara rombongan.
Mulai tahun 2002 Museum Geologi melalui Kepmen ESDM Nomor: 1725 tahun 2002 statusnya menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi dilingkungan Balitbang ESDM. Mulai akhir 2005 Museum Geologi berada dibawah Badan Geologi bersama dengan terbentuknya Badan Geologi sebagai Unit Eselon I yang ada di lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM).



E.     RUANG-RUANG YANG ADA DI MUSEUM GEOLOGI
1.      Lantai Satu
Terbagi menjadi 3 ruang utama, ruang orientasi dibagian tengah, ruang sayap barat dan ruang sayap timur.
a.      Ruang orientasi
Berisi peta geografi Indonesia dalam bentuk relief layar lebar yang menayangkan kegiatan geologi dan museum dalam bentuk animasi. Bilik pelayanan informasi museum serta bilik pelayanan pendidikan dan penelitian.
b.      Ruang sayap barat
Dikenal sebagai ruang geologi Indonesia, yang terdiri dari beberapa bilik yang menyajikan informasi tentang:
1)      Hipotesis terjadinya bumi didalam system tata surya.
2)      Tatanan tektonik regional yang membentuk geologi Indonesia, diwujudkan dalam bentuk maket model gerakan model gerakan lempeng-lempeng kulit bumi aktif.
3)      Keadaan geologi Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara serta Irian Jaya.
Dunia batuan dan mineral menempati bilik disebelah baratnya yang memamerkan beragam jenis batuan, mineral dan susunan kristalografinya dalam bentuk panel dan peraga asli. Masih dalam ruangan yang sama, dipamerkan kegiatan penelitian geologi Indonesia termasuk jenis-jenis peralatan atau perlengkapan lapangan, saran pemetaan dan penelitian serta hasil akhir kegiatan seperti peta (geologi, geofisika, gunung berapi, geomorfologi) dan publikasi-publikasi sebagai sarana pemasyarakatan data-data dan informasi geologi Indonesia.
Pada ujung ruang sayap barat adalah kegunung apian yang menunjukan keadaan beberapa gunung api aktif di Indonesia seperti: Tangkuban Perahu, Krakatau, Galunggung, Merapi dan Batu.
c.       Ruang sayap timur
Ruangan ini menggambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup dari primitif hingga modern yang mendiami planet bumi ini dikenal sebagai ruang sejarah kehidupan.
Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan diawali dengan informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 milyar tahun lalu, dimana makhluk hidup yang paling primitifpun belum ditemukan. Beberapa milyar tahun sesudahnya, disaat bumi sudah mulai tenang, lingkungannya mendukung perkembangan beberapa jenis timbunan bersel tunggal, yang keberadaan terekam dalam bentuk fosil.
Reptilia bertulang belakang berukuran besar yang hidup menguasai masa Mesozoikum tengah hingga akhir (120-65 juta tahun lalu) diperagaan dalam bentuk replika Fosil Tyrannosaurus Rex Osborn (jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton. Kehidupan awal di bumi yang di mulai sekitar 3 milyar tahun lalu selanjutnya berkembang dan berevolusi hingga sekarang. Jejak evolusi mamalia yang hidup pada zaman tersier (6,5-1,7 juta tahun lalu) dan kuarte (1,7 juta tahun lalu hingga sekarang) di Indonesia terekam baik melalui fosil-fosil binatang menyusui (gajah, badak, kerbau, kuda nil) dan hominid yang di temukan pada lapisan tanah di beberapa tempat khususnya di pulau Jawa.
Sejarah pembentukan danau Bandung yang melegenda di tampilkan dalam bentuk panel di ujung ruangan. Fosil ular dan ikan yang ditemukan pada lapisan tanah bekas danau Bandung serta artefak di peragakan dalam bentuk aslinya. Artefak yang terkumpul dari beberapa tempat di pinggiran danau Bandung menunjukan bahwa sekitar 6000 tahun lalu danau tersebut pernah di huni oleh manusia prasejarah. Informasi lengkap tentang fosil dan sisa-sisa kehidupan masa lalu di tempatkan pada bilik tersendiri di ruang sejarah kehidupan. Informasi yang disampaikan diantaranya adalah proses pembentukan fosil, termasuk batu bara dan minyak bumi, selain keadaan lingkungan purba.
2.      Lantai 2
Terbagi menjadi 3 ruangan utama: ruang barat, ruang tengah dan ruang timur. Ruang barat dipakai oleh staf museum, ruang tengah berisi maket pertambangan emas terbesar didunia, yang terletak di pegunungan tengah irian jaya. Tambang terbuka gransberg yang mempunyai cadang sekitar 1,186 milyar ton, dengan kandung tembaga 1,02%, emas 1,19 gram / ton dan perak 3 gram / ton. Gabungan beberapa tambang terbuka dan tambang bawah tanah aktif disekitarnya memberikan cadangan bijih sebanyak 2,5 milyar ton. Bekas tambang erksberg (gunung bijih) di sebelah tenggara Grasberg yang ditutup pada tahun 1988 merupakan situs geologi dan tambang yang dapat dimanfaatkan serta dikembangkan menjadi objek geowisata yang menarik. Beberapa contoh batuan asal irian jaya (papua) tertata dan terpamer dalam lemari kaca disekitar maket. Miniature menara pemboran minyak dan gas bumi juga diperagakan disini.
Ruang timur terbagi menjadi 7 ruangan kecil yang semuannya memberikan informasi tentang aspek positif dan negative tataan geologi bagi kehidupan manusia, khususnya Indonesia.
a.       Ruang 1 menyajikan informasi tentang manfaat dan kegunaan mineral atau batu bagi manusia, serta panel gambar sebaran sumber daya mineral di Indonesia.
b.      Ruang 2 menampilkan rekaman kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral.
c.       Ruangan 3 berisi informasi tentang pemakaian mineral dalam kehidupan sehari-hari, baik secara tradisional maupun modern.
d.      Ruang 4 menunjukan cara pengolahan dan pengelolaan komodisi mineral dan energi.
e.       Ruang 5 memamparkan informasi tentang berbagai jenis bahaya geologi (aspek negatif) seperti tanah longsor, letusan gunung api dan sebagainya.
f.       Ruang 6 menyajikan informasi tentang aspek positif geologi terutama berkaitan dengan gejala kegunung apian.
g.      Ruang 7 menjelaskan tentang sumber daya air dan pemanfaatannya, juga pengaruh lingkungan terhadap kelestarian sumber daya tersebut.
Gedung museum geologi yang terletak dijalan diponegoro 57 Bandung, museum ini ada di dalam organisasi pusat penelitian dan pengembangan geologi , direktorat jenderal geologi dan sumber daya mineral, departemen pertambangan dan energi. Bangunan gedung yang arsitekturnya dirancang oleh Menalda Van Schoulven Burg (arsitek Belanda) di bangun oleh kontraktor Lim A Goh dari Bandung. Pembangunannya memakan waktu selama sebelas bulan dengan tenaga kerja sebanyak 300 orang.
Tujuan utama pembangunan museum geologi yaitu untuk mendokumentasikan dan memperagakan benda peraga geologi hasil kegiatan kerja dilapangan dan di laboratorium semuanya dalam bentuk batuan, mineral dan fosil, dilengkapi dengan foto, bagan, peta ilustrasi dan beberapa model untuk memberikan gambaran lebih jelas.
Fungsi museum geologi lebih dititik beratkan kegunaannya dalam pengembangan pendidikan dan penelitian dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia karena itu sesudah mengalami pembaharuan dalam tata pameran dan peragaan, para pengunjung yang masih awam pada ilmu, kegiatan dan hasil kerja geologi, dapat memahaminya di museum. Untuk peragaannya museum geologi dilengkapi dengan perangkat elektronik, mekanik, pemandu dan pembimbing.
Berdasarkan pengamatan yang pernah dilakukan di beberapa museum yang memiliki satu, dua keunggulan-keunggulan ialah fungsinya sebagai tempat belajar, beberapa jenis dan model benda peraga langka bangunan yang memiliki kaitan sejarah perjuangan kemerdekaan nusa dan bangsa meskipun demikian, kekurangannya juga masih banyak, dan semuanya memerlukan peningkatan kemampuan dan ketekunan kerja.

















BAB IV
GUNUNG TANGKUBAN PARAHU

A.    PENGERTIAN UMUM
Ketinggian                  : 2,084 meter (6,837 kaki)
Lokasi                         : Jawa Barat, Indonesia
Koordinat                    : 6.77°LS 107.6°BT
Geologi                       : Jenis Stratovolcano
Letusan terakhir          : 1983
Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2oC pada malam hari. Gunung Tangkuban Parahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

B.     LEGENDA RAKYAT SETEMPAT
Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu, sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.
Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunung nya di antaranya adalah di kasawan Ciater, Subang.
Keberadaan gunung ini serta bentuk topografi Bandung yang berupa cekungan dengan bukit dan gunung di setiap sisinya menguatkan teori keberadaan sebuah telaga (kawah) besar yang kini merupakan kawasan Bandung. Diyakini oleh para ahli geologi bahwa kawasan dataran tinggi Bandung dengan ketinggian kurang lebih 709 m diatas permukaan laut merupakan sisa dari letusan gunung api purba yang dikenal sebagai Gunung Sunda dan Gunung Tangkuban Parahu merupakan sisa Gunung Sunda purba yang masih aktif. Fenomena seperti ini dapat dilihat pada Gunung Krakatau di Selat Sunda dan kawasan Ngorongoro di Tanzania, Afrika. Sehingga legenda Sangkuriang yang merupakan cerita masyarakat kawasan itu diyakini merupakan sebuah dokumentasi masyarakat kawasan Gunung sunda purba terhadap peristiwa pada saat itu.

C.    ASAL – USUL GUNUNG TANGKUBAN PERAHU
Gunung Tangkuban Perahu terbentuk dari aktivitas letusan yang paling muda di antara jajaran/ kompleks Gunung Api Sunda Purba dengan type letusan Strato/ berlapis , sekitar 3000 tahun yang lalu.
Dari gunung Sunda Purba (dengan ukuran yang lebih besar) kemudian Terbentuklah 3 tiga gunung api baru, yaitu : Gunung Sunda (Baru), dan Gunung Tangkuban Perahu. Gunung Burangrang dan Pada Fase terakhir sekitar 2000 tahun yang lalu terbentuklah dasar batuan Sedimen neogen / endapan batu bara.
Bagian sisa kawah ( Kaldera ) gunung Sunda Purba masih terdapat di antara Gunung Burangrang dan Tangkuban Perahu. Sedangkan Danau atau Situ. Lembang masih merupakan salah satu bagian dari dasar kawah gunung Sunda Purba itu sendiri. Peristiwa runtuhan ini terjadi pada dua tahap, yaitu:
1.      Terjadinya patahan di Lembang sekitar 3000 tahun yang lalu.
2.      Runtuhnya bagian puncak di sebelah Utara, kemudian muncullah kegiatan gunung Tangkuban Perahu di sebelah Timur yang merupakan sisa kawah Kaldera gunung Sunda (sekitar 2000 tahun yang lalu ).
Dalam perkembangannya membentuk tubuh gunung dengan puncak gunung api yang memanjang. Bentuk tubuh yang memanjang disebabkan oleh adanya tempat perpindahan titik letusan yang memanjang sekitar 1100 meter dengan arah timur dan barat. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya sisa – sisa tepi kawah yang lama yang mendirikan adanya gerakan atau perpindahan aktifitas puncak. Pada waktu yang bersamaan terbentuk pula mata air panas Ciater dan Maribaya.
Perpindahan aktifitas puncak yang membentang dari timur ke barat, maka apabila dilihat dari arah Selatan ( kota Bandung ) maka tampak seperti trapesium atau seperti perahu yang terbalik ( Bahasa Sunda ) perahu nangkub = Tangkuban Perahu.
Aktifitas gunung Tangkuban Perahu Sampai saat ini adalah dalam keadaan aktif dan normal. Dengan suhu permukaan kawah 96 ’ C s/d 98 ’ C dengan kondisi asap berwarna putih tipis. setelah kira – kira 3 bulan yang lalu Gunung Tangkuban Perahu dinyatakan statusnya ”WASPADA”,dengan ketinggian antara 5 – 15 m dari permukaan (kawah Baru, Ratu, Domas). Dalam masyarakat setempat (Sunda), terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu tidak lepas dengan legenda Sangkuriang.

D.    LETAK GEOGRAFIS
Secara geografis Gunung Tangkuban Perahu berada pada 64 derajat 06 LS. dan 107 derajat 36 BT dengan puncak tertinggi kurang lebih 2,084 meter dibawah permukaan laut. Obyek wisata gunung Tangkuban Perahu yang terletak tidak jauh dari jalan raya Bandung – Jakarta via Subang, Cikampek. Sekitar 30 km dari Bandung (merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat ) ke arah Utara 200 km dari Jakarta atau 32 km sebelah selatan kota Subang secara administratif berada di wilayah kabupaten Subang dan kabupaten Bandung.
E.     IKLIM
Daerah Tangkuban Perahu termasuk kategori daerah tropis dengan suhu rata - rata siang hari 18 derajat celcius dan antara 7 derajat sampai 9 derajat celcius malam hari. Memiliki curah hujan 2.700 mm. pertahun dengan curah hujan terendah 100 mm. di bulan Juli dan tertinggi 320 mm. di bulan Nonember dengan kelembaban udara 45 % - 95 % Prosentasi penyinaran Matahari tinggi antara 40 % - 60 % dengan lama penyinaran 4,8 jam atau sekitar 7- 2 jam per hari.
F.     LUAS AREAL
Secara keseluruhan luas areal gunung Tangkuban Perahu : 3.320 km2 dan dalam pengelolaannya terbagi dalam tiga kelompok,yaitu :
1.      Hutan Produksi       : 1.290 km2
2.      Hutan Wisata          : 370 km2
G.    KAWAH GUNUNG TANGKUBAN PERAHU
Gunung Tangkuban Perahu mempunyai dua kelompok kawah pusat yang masih aktif sampai saat ini , diantaranya adalah :
1.      Kelompok Pangguyangan Badak ( kawah Utama )
a.       Kawah Pangguyangan Badak ( pertama ) ukuran 800 m x 700 m
b.      Kawah Upas, kawah Upas A ( tertua ), kawah Upas B ( sebelum sekarang ) Kawah Upas C ( sekarang ) ukuran 800 m x 560 m
c.       Kawah Ratu, kawah Ratu B ( sekarang ) ukuran 650 m x 500 m
d.      Kawah G Como, ( leburan tahun 1926 )
e.       Kawah Baru
2.      Kelompok Kawah Parasiter
a.       Kawah Jurig
b.      Kawah Siluman
c.       Kawah Jurian
d.      Kawah Badak
e.       Kawah Domas
f.       Kawah Jagal
g.      Kawah Suci
Dari sekian kawah yang ada, hanya beberapa kawah yang paling menarik perhatian pengunjung . Hal ini disebabkan selain kawah Domas masih aktif juga karena ada mata air panas (Fumarole) dengan suhu mendekati titik didih antara 98 ‘C – 100’ C. Kawah Domas merupakan yang paling aman untuk dikunjungi karena posisinya yang tepat di lereng gunung terbuka (tidak tertutup atau ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan) sehingga gas – gas yang dikeluarkan oleh kawah akan segera terbawa angin.
3.      Aktifitas Letusan
Peristiwa letusan – letusan yang besar yang pernah terjadi tidak pernah dilakukan pencatatan sebelumnya . Baru kemudian mulai tercatat dalam sejarah setelah seorang berkewarganegaraan Jerman bernama Junghun yang pernah menulis erupsi tahun 1829 sejak itulah kegiatan gunung Tangkuban perahu mulai diadakan pencatatan aktivias sampai saat ini dan tercatat sebagai berikut :
a.       Tahun 1829 Terjadi letusan abu secara terus menerus di kawah Ratu dan Upas.
b.      Tahun 1846 Erupsi dalam kawah baru.
c.       Tahun 1862 Peningkatan kegiatan di dalam kawah Ratu dan Upas.
d.      Tahun 1896 Letusan freaktif, terbentuk kawah baru.
e.       Tahun 1910 Letusan kawah ratu.
f.       Tahun 1929 Letusan kawah lumpur setinggi 10 m. di kawah Ratu.
g.      Tahun 1935 Terbentuklah celah panjang 50 m. lebar 1 m. di kawah Ratu.
h.      Tahun 1936 Kenaikan kegiatan di kawah Ratu tinggi asap mencapai 100 m.
i.        Tahun 1952 Awan hitam mengepul setinggi 25 m. disertai hujan abu tipis di kawah Ratu.
j.        Tahun 1969 Hujan abu tipis mencapai perkebunan teh di daerah sebelah utara.
k.      Tahun 1970 Erupsi lumpur di kawah Ratu.
l.        Tahun 1984 Kenaikan kegempaan.
m.    Tahun 1985 Kenaikan suhu solfatar.
n.      Tahun 1992 Kenaikan aktifitas / gempa vulkanik.

H.    ARTI DAN FUNGSI TANGKUBAN PERAHU
Gunung Tangkuban Perahu memiliki beberapa fungsi bagi masyarakat penduduk sekitar wisatawan domestik dan asing dan berikut ini beberapa fungsi yang akan dijabarkan penulis sebagai berikut :
1.      Fungsi Biologis
Secara Biologis, asap belerang berguna untuk kesehatan kulit. daerah Gunung Tangkuban Perahu mempunyai tanah yang subur karena berdekatan dengan dapur magma sehingga cocok ditanami tumbuhan yang hidup pada suhu dingin.
2.      Fungsi Ekonomis
Secara ekonomis , adanya tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu merupakan keuntungan bagi penduduk sekitar dapat mencari nafkah dengan menjual souvenir, pakaian dan lain – lain. Barang dagangan dijual dan dibangun semacam stan – stan tempat berdagang berjejer – jejer sambil menawarkan barang dagangannya pada wisatawan. Dengan demikian penduduk sekitar dapat memperoleh keuntungan dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari.
3.      Fungsi Psikologis
Tempat wisata alam Gunung Tangkuban Perahu sangat cocok untuk tempat rekreasi, liburan dan refresing, karena suasana alamnya yang sejuk, tenang, damai dan tentram sehingga dapat menghilangkan perasaan yang stress dan jenuh dengan aktifitas pekerjaan mereka. Tempat ini juga cocok untuk berlibur keluarga, sekolah (Study Tour) liburan anak – anak muda atau sekedar berlibur mencari kedamaian agar hati menjadi tenang.
4.      Fungsi Akademis
Gunung Tangkuban Perahu selain sebagai tempat wisata juga dapat digunakan sebagai tempat penelitian ilmu – ilmu pengetahuan seperti Geografi, Geologi bagi para ilmuawan dan sarana bagi pelajar untuk dapat mengetahui kehebatan alam yang merupakan ciptaaan Tuhan Yang Maha Esa yang harus disyukuri dan dipelihara agar tetap terjaga kelestraiannya dan dapat diolah dengan baik sesuai kegunaannya.

I.       LEGENDA SANGKURIANG
Padi jaman dahulu kala ada seorang maha raja yang bernama Sungging Purbang kara dari kerajaan Galuh Pakuan pergi berburu ke hutan larangan dengan diiringi bala Punggawa kerajaan. Konon dalam perburuannya sang raja sempat membuang air kecil ke tampar tanpa sengaja air seninya tergenang di sebuah belahan tempurung kelapa yang tergeletak di tanah. Saat itu seekor babi hutan betina lari terbirit –birit karena ketakutan dikejar- kejar para penggawa yang akhirnya bersembunyi dekat genangan air kencing sang raja yang terkenal kesaktiannya itu. Karena babi betina yang merupakan jelmaan dari seorang pertapa cantik (yang dikutuk menjadi seekor babi hutan oleh gurunya karena melanggar pantangannya) meminum air seni sang raja. Selang beberapa waktu kemudian pada musim berburu berikutnya raja kembali ke hutan tersebut dan betapa terkejutnya dia saat mendengar jeritan tangis seorang bayi yang tergeletak di atas semak –semak belukar, lalu raja memerintahkan seluruh pung- gawa membawa bayi perempuan yang cantik kepada raja. Ia sangat gembira dan kemudian kembali ke Istana membawa bayi itu dan kemudian tumbuh menjadi seorang putri yang cantik jelita yang kemudian diberi nama Dayang Sumbi.
1.      Dayang Sumbi Dibuang Ke Hutan
Sejak kehadiraan Dayang Sumbi ke Istana Galuh , negara menjadi kisruh dan sering dilanda malapetaka, bencana demi bencana datang silih berganti. Keresahan semakin memuncak Pada saat Dayang Sumbi menjelang remaja ia selalu menolak lamaran para pangeran dari kerajaan tetangga sehingga sang raja menjadi panik dan khawatir bila mereka bersatu dan menyerang Galuh karena sakit hati, maka keputusan untuk membawa kembali Dayang Sumbi ke tempat asalnya ( ke Hutan ) dan hanya ditemani oleh seekor anjing Penjaga yang bernama si Tumang (yang merupakan jelmaan dari seorang manusia yang melanggar larangan guru) dan dibawa seperangkat alat tenun untuk menghibur dan mengisi waktu senggang di hutan yang sunyi dan sepi kerjanya hanya menenun setiap hari sesal duka akhirnya menjadi bencana , berbagai macam penyakit datang silih berganti.
2.      Menikah Dengan Si Tumang
Suatu hari Dayang Sumbi memaksakan dirinya menenun kain meskipun ia sedikit sakit , tiba – tiba tenun tanpa sengaja alat tenunan itu jatuh dari tangannya ke lereng yang terjal, dengan badan lemah tak berdaya Dayang Sumbi tidak mampu mengambil kembali alat tenun itu . Maka Dayang Sumbi bersumpah dan berkata “Siapa saja yang sudi membawa alat tenun itu kembali bila ia perempuan akan ku angkat sebagai saudara dan bila ia laki – laki maka akan kuangkat menjadi suami, sungguh aku tak bohong”.
Dayang Sumbi bersungguh – sungguh dengan ucapan itu. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi setelah beberapa saat kemudian datanglah si Tumang yang membawa alat tenun itu. Apa boleh buat janji seorang iswari tidak dapat dipungkiri maka Dayang Sumbi dengan si Tumang jadilah suami istri. Setelah mereka menikah maka keduanya mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama “Sangkuriang” si anak Tumang yang diasuhnya bersama.
3.      Sangkuriang Membunuh Ayahnya
Pada suatu hari Sangkuriang kecil mengemban kuasa sang bunda untuk mencari hati rusa hasil buruannya sebagai santap malam ditemani si Tumang pergi membawa busur panah dan menuju ke hutan. Beberapa kali sangkuriang berusaha mebidik panahnya ke sasaran namun selalu gagal akhirnya Sangkuriang semakin kesal karena tidak mendapatkan hati rusa, kemudian dengan maksud menenangkan hati sang ibunda akhirnya Sangkuriang mengambil anak panah untuk mengambil hati si Tumang Setelah selesai makan malam tiba - tiba Dayang Sumbi bertanya ” Wahai anakku kemanakah gerangan si Tumang? dari tadi tidak tampakrupa dan bayangannya ?” tanya sang bunda. Dengan nada datar Sangkuriang menjawab “Hati yang kita makan tadi sebenarnya bukanlah hati rusa tetapi hati yang disantap pada makan malam adalah hati si Tumang”. Dengan sangat terkejut dan perasaan yang sangat marah ketika itu Dayang Sumbi mengambil Centong dan akhirnya Sangkuriang dipukul dengan keras dan menyebabkan luka kepala yang cukup dalam. Pada saat itu Dayang Sumbi memohon kepada sang Hyang Widi atas kesalahannya yang tidak pernah menceritakan keadaan yang sebenarnya ayah Sangkuriang. Pada waktu Dayang Sumbi mendapat “wangsit” bisikan dari Hyang Widhi bahwa ia tidak boleh memakan setiap makhluk yang berdarah antar lain harus mandi air pancuran dan sejak saat itu Dayang Sumbi hanya memakan aneka tumbuhan dan daun – daunan (lalaban) sebagai lauk pauk serta harus mandi dan minum dari air pancuran.
4.      Sangkuriang diusir Ibunya
Dalam keadaan kepala yang luka dan berdarah dengan kondisi setengah hilang ingatan, Sangkuriang di usir oleh ibunnya dari kampung halamannya dan ia menggembara entah kemana tujuannya dari masuk hutan keluar hutan, dari satu desa ke desa lain, ia menuju ke arah matahari terbit dan dalam pengembaraannya itu Sangkuriang selalu berburu dan mempelajari ilmu dari setiap guru yang dijumpainya. Akhirnya sekarang Sangkuriang menjadi seorang pemuda yang tampan dan perkasa (sakti mandraguna). Setelah sekian lama mengembara timbul hasrat untuk pulang ke kampung halamannya untuk mencari ibunya. Setelah menempuh perjalanan dalam beberapa hari kemudian sampai juga di suatu desa. Dalam perjalanan Sangkuriang berpapasan dengan seorang gadis cantik dan Sangkuriang mempunyai hasrat untuk mencintai gadis itu yang sesungguhnya adalah ibunda, dan Sangkuriang tidak menyadari bahwa kampung yang disinggahinya adalah kampung halamannya sendiri yang pernah ia tinggalkan. Dan gadis tersebut sesungguhnya adalah ibunya “Dayang Sumbi ”. Atas ampunan segala perihal sang Dewata Dayang Sumbi tetap ayu dan tampak muda. Pada suatu hari Sangkuriang dan Dayang Sumbi sedang memadu kasih untuk merencanakan perkawinannya. Dayang Sumbi terkejut akan luka yang pernah dilakukan pada anaknya, semua bentuk dan ciri-ciri luka pada kepalanya Sangkuriang (sang kekasih) sama. Dayang Sumbi menyadari hal itu dan dia berpikir tak ingin menikah dengan Sangkuriang (yang ia yakini bahwa dia adalah anak kandungnya sendiri) namun di sisi lain ia tak mampu membatalkan rencana perikawinannya tersebut.
Kepada sang Dewata sekali lagi ia mohon bagaimana cara melakukan siasat untuk menggagalkan perkawinannya. Sebagai siasat suatu syarat (sebagai Mas kawin) Sangkuriang harus membuat danau dengan perahu raksasa dalam tempo satu malam yang akan dipakai nanti untuk dilayari berbulan madu. Perahu dan danau tersebut harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing Tenanglah fikiran Dayang Sumbi ketika itu, karena menurutnya persyaratan itu tidak akan mampu dipenuhi oleh Sangkuriang. Dengan percaya diri dan tenang syarat perkawinan itupun ia terima tanpa basa-basi Sangkuriang perkasa langsung menyanggupi persyaratan sang kekasih.
5.      Sangkuriang Membuat Perahu
Dengan dibantu bala tentara siluman “Gunung Tujuh ” Sangkuriang mulai membendung aliran sungai Citarum sang Hyang Tikoro (kini sudah menjadi Padalarang sekitar 30 km barat kota Bandung). Perahu dibangun di hutan Lembitan (Lembang). Sepanjang malam Dayang Sumbi mengamati apa yang diperbuat oleh Sangkuriang, dengan perasaan cemas, menjelang tengan malam Situ Hyang alias danau atau telaga Bandung telah terbentang dan perahu pun siap diluncurkan, sementara fajar menyingsing masih jauh menjelang Di kala itupun Dayang Sumbi tak keukurangan akal untuk mengagalkan rencana anaknya yang angkara murka. Dayang Sumbi berdoa kepada Dewata dan beberapa saat kemudian Dayang Sumbi mengambil sehelai selendang mayang (berwarna putih) hasil tenunannya dan ilmu kesaktian yang dimilikinya Dayang Sumbi mulai mengibar-ibarkankan selendang putihnya di ufuk timur sehingga menimbulkan cahaya seolah fajar telah tiba Selain itu pula dayang Sumbi memerintahkan penduduknya pengiringnya Untuk menyalakan obor, ayam – ayam yang berada di sekitarnya mulai berkokok, sedangkan kaum wanitanya disuruh bersenandung sambil menumbuk padi seolah – olah hari sudah pagi. Sangkuriang wirang karena kesiangan karena ia merasa yakin melaksanakan apa yang diinginkan oleh calon istrinya akan tetapi ternyata ia gagal dan begitu murkanya ia menendang perahunya yang hampir selesai itu kemudian terbalik (dalam bahasa Sunda yaitu Nangkub) dan berubah menjadi gunung yang sekarang dinamakan Tangkuban Perahu (yang berarti perahu terbalik). Dan sisa ranting pohon untuk membuat perahu yang berubah menjadi gunung Burangrang dan sisa kayu yang ditebang berubah menjadi bukit yang dinamakan bukit Tunggul.
Bendungan Sang Hyang Tikoro yang digunakan untuk membuat danau itu pun diobrak – abrik sehingga air menjadi surut dan danaunya pun berubah menjadi sebuah desa Bandung. Kini desa tersebut telah berubah menjadi kota yang kita kenal dengan sebutan kota “Bandung” (Berasal dari Kata Bendung / bendungan).















BAB V
PENUTUP

            Atas berkat rahmat Allah SWT yang telah memberikan hidayah dan inayah-Nya kapada kita semua sehinngga kami dapat menyalesaikan tugas dan kewajiban kami dalam rangka membuat karya tulis yang merupakan persyaratan dalam mengikuti Ujian Nasional Tahun Ajaran 2013/2014 dengan selamat tidak ada suatu halangan apapun kami dapat menyusun karya tulis ini dengan baik.
            Dan kami mengucapkan semoga buku Karya Tulis ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi para pembaca. Saya juga tidak lupa minta saran-saran dan kritikan yang bersifat membangun sebulum dan sesudahnya saya sebagai penyusun karya tulis ini mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu didalam menyusun karya tulis ini.
            Saya sebagai penyusun tidak lupa mohon maaf kepada para pembaca apabila didalam menyusun dan menulis karya tulis ini melakukan kesalahan-kesalahan dan apabila didalam menyusun karya tulis ini di dalamnya ada kata-kata yang kurang berkenan di hati para pembaca.

A.    KESIMPULAN
            Setelah penulis melaksanakan praktek atau Study Tour ke Bandung, berdasarkan data-data dan keterangan serta pengalaman yang penulis peroleh maka, kami dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Obyek wisata di Bandung di bangun dengan megah bukan hanya untuk melengkapi keindahan kota saja, melainkan obyek itu dibangun untuk     pengetahuan masyarakat Indonesia.
2.      Daya tampung sejarah kota Bandung ada yang dibuka sebagai tempat pariwisata agar masyarakat mengetahui pentingnya sejarah  perjuangan bangsa.
3.      Dengan adanya ungkapan yang bersih, teratur, rapi, panorama yang demikian ini akan menjadikan orang ingin menikmatinya dengan nyaman.
4.      Selain wisatawan mancanegara dan domestik dapat menikmati keindahan obyek di Bandung, peenduduk disekitar obyek-obyek tersebut juga dapat berjualan berbagai macam oleh-oleh dan souvenir yang dapat meningkatkan taraf hidupnya.
5.      Obyek wisata di Bandung memang semuanya bersih, indah, rapi, sehingga pengunjung merasa puas.

B.     SARAN
Karena keperluan kami dalam hal ini. Penyusun laporan dalam pelaksanaan karya wisata ini hanya sedikit saran-saran yang menyangkut yang dapat mendorong dan berguna bagi daerah Bandung dan sekitarnya yang telah dikunjungi bersama. Berdasarkan hasil penelitian yang saya jalankan selama mengikuti Study Tour berlangsung maka penulis mengajuka saran-saran sebagai berikut :
1.      Pengunjung hendaknya mendapatkan pelayanan yang menyenangkan, oleh karana itu setiap obyek hendaknya diucapkan yang bersifat untuk dipamerkan pemeliharaan juga penting dilakukan sehingga tidak mengecewakan pengunjung.
2.      Obyek-obyek itu di perbaharui atau di tingkatkan lebih menarik perhatian para pengunjung dan menarik bagi wismas. sehingga dapat menambah penghasilan dan devisa Negara.
3.      Obyek-obyek yang sifatnya sangat bersejarah bagi Bangsa Indonesia  hendaknya dijaga kemurnian dan kebersihan lingkungan.
Demikian harapan dan saran-saran dari saya sehingga dapat berkenan dihati para pembaca dan mendapat perhatian dari beberapa pihak. Adik-adikku kelas VII dan kelas VIII khususnya di SMP N 3 MANDIRAJA. Janganlah bosan-bosan membaca buku-buku pelajaran, pengetahuan ataupun karya tulis ini, dan penulis mengharap karya tulis ini dapat bermanfaat atau berguna bagi kalian semua, dan semuanya dan semuanya belajarlah yang rajin agar tercapai cita-citanya, karena kita semua masih tahap belajar. Sekian dan Terima Kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Anipudin-Delik Iskandar-Ending Jahruddin. 2005. Cermat Berbahasa 3. Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Heru Prasetyo, Esroq. 2005. Bahasa dan sastra Indonesia. Surakrta
Umar, Husen. 1999. Metode Penelitian Untuk Karya Tulis. Jakarta: Fajar Interpretama Offset.





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar